Selamat datang 2021! : Pesan kecil.

Ada pepatah bilang, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. 

Walaupun 3 hari berlalu sudah, ritual sambut tahun baru yang turun-temurun selalu menjadi warna atas kedatangannya, dan agaknya tahun ini cukup 'kurang berkesan' bagi yang melaksanakan. Himbauan tahun baru di rumah saja sepertinya membuat manusia pelaku ritual ini "terpaksa" menuruti penguasa, tentu saja dengan harapan maslahat yang lebih besar daripada resiko ke depannya yang tidak kita inginkan bila itu membahayakan.


Sebenarnya, pembahasan ini bukan untuk mendukung ritual menyambut tahun baru, tetapi lebih kepada esensi apa yang perlu kita pahami dan terapkan dari waktu ke waktu yang telah dan/atau akan kita lalui.

Karena sebenarnya dalam agama pun hal ini merupakan sesuatu yang dianggap tidak perlu dilakukan, terlebih jika hanya kesenangan dan mubazir yang terjadi.


Kembali ke topik. Percaya atau tidak, semua manusia yakin dan paham betul bahwa kita akan mati. Baik itu yang beragama, yang tidak beragama, baik itu yang percaya Tuhan ataupun yang tidak percaya tuhan. Baik itu yang nasionalis maupun yang komunis, baik itu yang masih muda atau yang sudah melewati muda, baik itu yang laki-laki atau perempuan, baik itu kaya atau miskin. Agama apapun atau pemahaman apapun yang kita dapat, percaya bahwa semua pasti akan mati. Persepsi yang kita tanamkanlah yang akan bekerja dan menuntun diri "kemanakah jalan hidup yang akan kita ambil?"


Ada satu kisah menarik dari dosen biologi saya ketika saya masih semester awal, beliau menceritakan bahwa ada seorang ilmuwan dari Rusia (mohon maaf tidak mencantumkan sumber) yang ingin hidup lebih panjang, atau dengan kata lain ingin selalu 'memperpanjang hidupnya'. Singkat cerita, dia (ilmuwan) itu mengklaim bahwasanya umur seseorang itu dinilai dari memendeknya sesuatu pada gen yang dimiliki, maka dari itu berbagai cara dia coba untuk memperpanjang apa yang menurut dia benar. Tapi tahu apa yang terjadi? Suatu kesalahan membuat dia gagal dan justru mempercepat penuaan dan akhirnya meninggal lebih cepat. 


Mungkin terdengar familiar ya? Tapi tenang, ini bukan cerita dongeng putri salju oleh penyihir jahat yang terobsesi darah perempuan muda untuk diminum dengan keajaiban 'entah darimana' kembali muda dan berumur lebih lama.


Terlepas dari cerita diatas benar atau tidaknya, ada hikmah yang bisa kita ambil, disini kita tidak berbicara tentang pemahaman apa yang diambil ilmuwan tersebut, tapi satu yang pasti, dia percaya bahwa yang hidup pasti mati.

Perlu digaris bawahi, tidak dibenarkan mempertanyakan bagaimana caranya memperpanjang penemuan si ilmuwan aneh itu, jangan merasa aman dari kematian, dan tidak pula mencari cari mati.


Beruntungnya islam mengajarkan prinsip islam, iman, dan ihsan. Di dalam rukun iman disebutkan bahwa takdir itu Allah yang tetapkan. Segala urusan, termasuk takdir hanya Allah-lah yang berhak mengatur, kita diwajibkan untuk percaya. Allah juga berfirman bahwa setiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati (QS. Al-'Ankabut : 57). 

Cinta dunia dan takut mati merupakan suatu aib yang dengan terang-terangan rasulullah menyebutnya sebagai wahn. Na'udzubillahi min dzalik. Umat muslim yang taat insyaallah akan kembali untuk bertemu dengan Allah, jika sudah waktunya. Bukankah kita merindukan kekasih yang menciptakan kita?


Islam mengajarkan bahwa segala sesuatu yang kita lakukan saat hidup di dunia memiliki konsekuensi yang akan dimintai pertanggungjawabannya kelak di hadapan Tuhannya ketika telah sampai di akhirat. Sebagai bentuk ujian dan ketetapan yang Allah buat untuk melihat kelayakan dimana kita ditempatkan nanti.

Dan cukuplah kematian sebagai nasihat, yang sebenar-benarnya.


Beruntungnya islam mengajarkan untuk bertanggung jawab atas titipan hidup yang Allah beri, karna Allah tidak menciptakan sesuatu dengan sia-sia melainkan ada hikmahnya (QS. Ali 'Imron : 191).


Untuk itu, yang perlu kita lakukan mumpung masih di dunia adalah mencari bekal kebaikan sebaik-baiknya, agar ketika kita berpulang nanti, kita mantap dan beruntung, kembali dalam keadaan aman di akhirat, karena Allah tidak mengubah suatu kaum kecuali kaum itu mengubah nasibnya sendiri (QS. Ar Ra'd : 11).


Nah, berhubung manusia suka sama yang baru baru seperti baju baru, uang baru, tas baru, rumah baru, tabungan baru (asal jangan cicilan baru, karena tidak sehat bagi kesehatan), seblak baru, martabak baru, baso baru, miayam baru, amal baru, dan mumpung ini tahun baru, kenapa kita tidak mengharapkan hati yang baru? Hati dengan upgrade-an keimanan yang selalu mengingat Allah layaknya mikirin masa depan yang tak kunjung terlihat.

*ehh bukan curhat.

Yok, "menuju tahun-tahun yang lebih baik dan positif" diawali dari tahun 2021 ini.


Terimakasih sudah membaca, semoga pesan kecil ini bisa menjadi penghantar amal ma'ruf nahi munkar yang Allah ridhoi.

Juga sebagai pengingat bagi kita semua khususnya penulis yang tentu saja tidak luput dari kesalahan.

Kalo nanti kamu hey pembaca tidak lihat mimin di surga, titip bilang ke Allah ya kalo penulis pernah jadi temen kamu yang ingetin Allah di dunia.

Sampai nanti :)


Kota Bandung, 3 Januari 2021.


Supported by : Inspirasibersama.comHikmahdanhikmah.com, dan Hpai.inspirasibersama.com

Komentar